PERSAUDARAAN/PERSAHABATAN SEJATI THS-THM

oleh : Petrus Agus Salim (anggota Dewan Pendiri THS-THM)

(diunggah dari Wacana 9 - Rekonsiliasi THS-THM menjelang Sidang Nasional III, Cisarua-Bogor, 2003)

Persaudaraan/persahabatan sejati/ tulus? Apakah masih ada di jaman yang makin modern dan individual ini? Sebab kita melihat begitu banyak pengkhianatan terhadap persaudaraan/persahabatan (selanjutnya ditulis persahabatan), baik itu dalam bidang ekonomi, politik, organisasi, pendidikan, maupun kemasyarakatan. Atau jikalau persahabatan masih ada mungkin tinggal sedikit jumlahnya. Jangan-jangan ia hanya masih ada di desa atau daerah terpencil yang kehidupannya masih sederhana dan tertinggal. Ibarat mau membangun rumah hanya menyiapkan bahannya saja. Lalu tetangga di kampung ikut mengerjakan. Tidak perlu membayar, cukup menyediakan makan ala kadarnya. Rumah pun tegak berdiri karena persahabatan. Tetapi di kota, terutama kota besar, hidup harus dikalkulasi dalam untung rugi secara ekonomi agar biaya hidup bisa direncanakan. Sering persahabatan termasuk yang harus dihitung biayanya, Maka persahabatan tidak perlu ada kalau tidak saling menguntungkan. Apakah sudah demikian keadaannya?
Tentu saja tidak betul. Persahabatan tulus masih ada dan banyak sekali walaupun untuk sebagian orang dikalkulasi untung ruginya. Persahabatan sejati tidak hanya berbentuk fisik sehingga kita bisa salah menilai jika semata-mata melihat kedekatan secara fisik. Persahabatan menyangkut komunikasi perasaan dan hati nurani. Cara menyampaikan dalam bahasa kata ang lemah lembut ataupun tidak, menjadi tidak penting lagi, karena memang ada bunyi bahasa yang terdengar kasar di telinga kita, tetapi justru merdu di telinga suku/bangsa yang menggunakannya.

Kemajuan iptek, waktu, tempat, dan pertukaran budaya juga memaksa nilai persahabatan berubah menyesuaikan diri. Di jaman modern sekarang ini makin terbukti bahwa persahabatan tidak selalu berarti suasana berkawan adem, ayem, mulus, damai yang tanpa konflik. Sering malah persahabatan mencapai kadar yang makin tinggi dengan melewati proses perbedaan dan konflik. Konflik rupanya perlu ada untuk melebur perbedaan serta membuktikan dan memurnikan kadar persahabatan yang sesungguhnya. Konflik yang terkontrol memperindah persahabatan. Seperti sayuran menjadi lezat ketika garam melebur di dalamnya. Seperti api diperlukan melebur memurnikan untuk mendapatkan emas. Persahabatan antar pribadi, kelompok, dan bangsa juga memerlukan konflik terkontrol untuk saling memurnikan dan mempertinggi kadar persahabatan tulus yang pada akhirnya menghasilkan saling pengertian dan kerjasama lebih adil antar mereka. Maka kita tidak perlu takut menghadapi konflik, justru perlu kita kelola dan menjadikannya berkat awal perdamaian dan kerjasama positif. Kepercayaan iman kita kepada Tuhan mengajarkan bahwa yang dianggap kutuk (kesulitan, konflik) oleh manusia umumnya bisa menjadi berkat, peluang, dan sukses bagi yang berjuang sungguh dalam iman dan keikhlasan.

Ada suatu yang tidak berubah di dalam persahabatan tulus, yang bisa dirasakan oleh panca indera hingga menembus ke dalam jantung-jiwa orang yang mengalaminya, yang bernilai luhur dan mulia, yaitu cinta kasih yang bisa berbentuk pertolongan, perhatian yang tulus, kesediaan memberi nasehat dan mendengarkan – dan yang tertinggi yaitu pengorbanan jiwa-raga. Yesus memberi contoh kadar persahabaan tertinggi dan mulia, yaitu pengorbanan jiwa ragaNya sendiri, dengan mati di kayu salib. Bukan karena Ia bersalah, tetapi untuk menebus dosa semua umat manusia sahabat/mitra Allah, agar menikmati hidup kekal. Itu untuk menggenapi sabda Allah yang disabdakanNya ……. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Ternyata itu bukan contoh yang mustahil. Itu dapat dan sudah dilakukan manusia dari mulai para nabi, rasul, martir, santo/santa, misionaris bahkan perorangan yang tidak tercatat walau untuk lingkup lebih kecil daripada karya Yesus. Ya maklum saja, Beliau kan Tuhan sendiri. Kita pun ingin melatih diri agar memiliki semangat dan contoh mulia itu, walau barangkali dalam kualitas berbeda, dalam jenis pengorbanan berbeda. Ya maklum saja, kita kan manusia biasa.

Kerusakan persahabatan yang terjadi sejak jaman dahulu kala, sejak jaman nabi-nabi sampai sekarang, sebenarnya dilakukan oleh pribadi atau sekelompok kecil orang. Tetapi kadang kelompok kecil ini melakukannya secara demonstratif, menghasut, brutal, terencana, yang efeknya sangat meluas, merusak tatanan kehidupan keluarga, masyarakat atau negara. Malah tidak jarang ada yang dilakukan dengan mengatasnamakan agama. Membela (agama) Tuhan, demikian alasannya. Ambil contoh pengeboman gereja dan mesjid, perampokan, pembunuhan, penipuan, pemerasan, pencopetan, atau banyak peristiwa yang terjadi sehari-hari. Semuanya dilakukan oleh pribadi atau sekelompok (kecil) orang. Bahkan tanpa bermaksud mengecilkan musibahnya, kerusuhan Mei 1998 juga dilakukan oleh sekelompok kecil masyarakat. Dengan jujur harus berani kita katakan bahwa, dalam jumlah yang jauh lebih besar orang menonton kejadian penjarahan itu dan tidak brutal-anarkis. Mereka tidak ikut menjarah atau anarkis walaupun bukan orang kaya, malah mungkin relatif miskin. Mereka tidak ingin larut dalam pesta kezaliman dan keharaman karena mereka memiliki prinsip hidup yang kuat. Walau mungkin mereka bukan katolik atau kristen. Kasih Allah Sang Pencipta yang penuh kebaikan kepada semua insan membentengi hati nurani sebagian besar orang di dunia sehingga tidak terus mengikuti godaan setan untuk berbuat keji pada sesamanya. Bahkan tragedi terbesar abad ini, pengeboman Menara Kembar gedung WTC Amerika pada 11 September 2001 tidak dapat menghancurkan persahabatan tulus sebagian besar bangsa atau membawa kiamat. Sehingga jadilah keadaan di dunia masih tetap baik seperti keadaan sekarang, dan persahabatan yang tulus ada banyak di dalamnya. Maka persahabatan di dalam THS-THM untuk tujuan jahat atau hal yang merusak tidak perlu dan tidak boleh dibiarkan ada dalam pergaulan organisasi kita, karena nilainya palsu, negatif, bertujuan merusak seperti yang diinginkan oleh kuasa gelap karya setan.

Kita tidak boleh pesimis melihat berita dan kenyataan yang terjadi di sekitar kita, di dalam maupun di luar negeri. Persahabatan yang “tulus” (jika istilah “sejati” terlalu tinggi) kita yakini ada di mana-mana. Di desa, di kota dunia, mungkin juga nanti di planet apabila sudah ada kehidupan dan pergaulan antar penghuni planet. Mari kita mohon pada Tuhan agar dunia jangan buru-buru kiamat. Sayang sekali kalau planet atau bintang indah yang jumlahnya jutaan, mungkin miliaran, dan banyak yang besarnya melebihi bumi kita (sebagian besar tidak bisa kita lihat karena jauhnya) hanya menjadi hiasan angkasa dan dibiarkan kosong. Memang jika doa kita dikabulkan, yang kasihan adalah peramal yang dulu menyebutkan bahwa dunia kita kiamat tahun sekian, padahal sudah lewat dan tak terbukti. Dia tidak laku lagi dan harus cari pekerjaan lain (kasihan deh lu).

PROSES dan MANFAAT

Salah satu tujuan dan manfaat latihan (beladiri) THS-THM adalah secara sadar terus menumbuh-kembangkan rasa persahabatan kristiani yang tulus. Prosesnya seringkali tidak disadari oleh pribadi-pribadi yang ikut dalam latihan beladiri tersebut. Ya, lebih kurang seperti persahabatan kita dengan teman sekelas, teman satu sekolah, tetangga, teman gereja, anggota keluarga atau yang lainnya. Bedanya ini berproses dalam lingkaran spiritual katolik. Begitu wajar, sampai tidak kita sadari. Dan tanpa terasa komunikasi itu berlangsung bertahun-tahun. Sampai tingkat dimana kita mempercayai orang lain seperti ia bagian dari diri kita. Padahal (mungkin) ia orang lain, bukan saudara dari keluarga (ayah-ibu) kita.

Pertemuan dalam latihan THS-THM menjadi proses penyesuaian tiap pribadi untuk menemukan makin banyak sahabat yang tulus. Sehingga kodrat manusia sebagai mahluk pribadi dan juga mahluk sosial secara naluriah-alamiah mendapatkan bentuknya yang utuh melalui pembinaan dan hidup bersama dalam komunitas THS-THM yang berlandaskan iman katolik, untuk secara proporsional menjadikan orang lain sebagai sahabat. Akan tak terhitung banyaknya manfaat yang diperoleh tiap anggota organisasi ini hidup dalam jaringan (network) persahabatan yang tulus. Kelak tiap anggota bisa pergi ke mana saja ia mau karena temannya bertebaran di seluruh dunia. Ya, kira-kira seperti jaringan ordo-ordo dalam gereja. Akan sampai masanya orang tua akan merasa rugi jika tidak memasukkan anaknya untuk dididik di THS-THM. Demikianlah diharapkan persahabatan menjadi berkat, bukan musibah. Karena kita akan memiliki sahabat atau saudara yang dapat saling diandalkan. Kita dapat saling dipercaya, dapat saling menolong untuk membantu atau memecahkan masalah hidup yang kita hadapi, dengan tetap masing-masing menjadi pribadi yang mandiri, bukan masalah hidup yang kita hadapi, dengan tetap masing-masing menjadi pribadi yang mandiri, bukan pribadi yang rapuh dan merugikan sahabat lain. Walaupun nanti di sana-sini tingkat keberhasilan membina persahabatan tidak seratus persen, kegagalannya kecil dan dapat kita maklumi. Kadar kesadaran kolektif yang tinggi dari persahabatan tulus menjadikan kasus negatifnya juga kecil. Semoga membuat hidup anggotanya menjadi lebih sukses dan berkualitas.
Anda tidak percaya? Boleh saja. Itu hak anda. Tapi…., jangan-jangan telah anda alami, walaupun baru dalam lingkup kecil. Jangan-jangan sahabat anda sekarang, teman bisnis anda, atasan/bawahan anda, atau (he..he..he..jangan-jangan) pacar anda, atau bahkan isteri/suami anda adalah teman latihan THS-THM. Jangan-jangan juga pastor, suster, dan frater anda. Ya, sekarang terbayang kembali saat indah berlatih bersama, didadar, digojlok dan macam-macam kegiatan positif THS-THM. Itu sudah lama sekali atau mungkin baru saja berlalu. Ya ampun, sampai tidak kita sadari! Tapi syukur kepada Tuhan, kita ingat lagi, tanda kita masih waras.

Nah, sekarang ingin tahu manfaat latihan THS-THM yang menghasilkan persahabatan anda ada di nomor berapa? Coba simak beberapa kesimpulan di bawah ini :
1. Sebagai sarana meningkatkan benih panggilan hidup dalam kesalehan (misal menjadi pastor, suster, frater, selibat)
2. Sebagai sarana meningkatkan minat dan kebiasaan membaca kitab suci/injil (latihan dimulai doa bersama, membaca kitab suci dan ditutup juga dengan doa, dipimpin bergantian).
3. Sebagai sarana menemukan pasangan seiman/jodoh.
4. Sebagai sarana meningkatkan komunikasi antar umat.
5. Sebagai sarana meningkatkan komunikasi dalam keluarga (kakek-nenek-suami-isteri-anak-cucu)
6. Sebagai sarana variasi doa (berdoa dalam gerak, bermuatan spiritual katolik yang di design khusus untuk kelompk C dewasa-manula : sekar kasih, aisurto meditasi).
7. Sebagai sarana menggugah rasa pertobatan.
8. Sebagai sarana olahraga hobbi untuk memelihara, meningkatkan kesehatan (berbagai tingkat umur) bagi peserta normal atau cacat tubuh karena penyakit, bawaan lahir atau kecelakaan (banyak macam kondisi).
9. Sebagai sarana meningkatkan persahabatan/persaudaraan kristiani yang tulus inter/antar etnis dan bangsa.
10. Sebagai sarana membantu menemukan atau meningkatkan kepribadian.
11. Sebagai sarana meningkatkan pendidikan, pengetahuan (melalui pembinaan terprogram dan berkesinambungan).
12. Sebagai sarana menjalin hubungan bisnis lokal-internasional yang lebih jujur-adil bagi anggotanya.
13. Sebagai sarana membangun jaringan/menemukan pekerjaan dan profesi.
14. Sebagai sarana membantu perawatan/penyembuhan di bidang medis kedokteran maupun alternatif (doa)
15. Sebagai sarana olah raga mencapai prestasi (dipertandingkan, mendapat piala atau hadiah).
16. Sebagai sarana bergaul dengan umat di luar katolik melalui kegiatan bersama yang bersifat permanen ataupun insidental (latihan bersama, pertandingan resmi, kerja bakti/sosial, dll).

Kesimpulan manfaat latihan THS-THM ini akan kita bahas satu persatu dalam tulisan tersendiori. Namun tulislah juga kisah nyata anda jika mengalaminya, atau pengalaman di luar itu yang bisa dikaitkan dengan THS-THM. Jangan khawatir kurang mampu menulisnya, karena jkalau ada kekurangan dalam hal tata bahasa akan disempurnakan oleh tim redaks. Tentu akan menjadi kesaksian nyata yang menggugah, bermanfaat, dan menjadi motivasi bagi yang lain.

POTENSI TERPENDAM

Sekarang, terpikirkah oleh kita bahwa kegiatan latihan (beladiri) THS-THM sebenarnya mengumpulkan sejumlah besar manusia katolik yang potensial menjadi konsumen pewartaan kabar gembira. Dan kelak menjadi produsennya jika dikelola dengan sungguh-sungguh. Allah memerlukan manusia. Manusia menjadi sahabat/mitra Allah dalam bentuk pribadi maupun kelompok untuk mewartakan kebaikan dan cinta kasihNya. Kalau tidak ada manusia bagaimana Allah bisa memperlihatkan cinta kasihNya kepada manusia. Tidak heran, pada puncaknya IA SENDIRI tahu persis perlu menjadi manusia untuk mengajar manusia ciptaanNya tentang jalan keselamatan. Maka Ia turun ke dunia, agar manusia menemukan rasa indah dan bahagia dalam hidup. Di dunia juga di keabadian. Namun sayang tidak semua orang mau menerimaNya.

Terpikirkah oleh kita bahwa massa (anggota) peserta latihan THS-THM mungkin yang terbesar dibandingkan peserta kategorial lainnya, misal Legio Mariae, KKMK, Wanita Katolik, ISKA, PMKRI. Dan yang berminat dari seluruh kelompok kategorial itu pun dapat ikut berlatih olahraga THS-THM untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan fisik-mental-spiritualnya. Termasuk pastor, suster, frater, seminaris, mahasiswa, pelajar, dan anak-anak dapat ikut juga, wong ini adalah latihan olahraga yang terus menerus diberi muatan spiritual katolik. Kan yang namanya olahraga/gerak-badan dibutuhkan oleh hampir semua orang, bukan hanya oleh yang normal, lengkap anggota tubuhnya, tetapi juga penyandang cacat dalam batas tertentu. Makanya ada olimpiade untuk orang normal maupun penyandang cacat.

Nah, sebagai potensi terpendam, dalam kondisi manajemen yang belum digarap serius karena kurangnya dana (abis tidak semua sadar membayar walau iuran anggota sangat murah, sampai pelatihnya nombok), yang dikerjakan paruh waktu (part timer) secara sukarela tanpa digaji, oleh sebagian besar anak muda tingkat Sekolah Menengah Atas, mahasiswa, dan beberapa Sarjana, basis massa/umat THS-THM dari anak-anak sampai dewasa-manula, tersebar di paroki dan ratusan sekolah di seluruh Indonesia serta luar negeri (Filipina, Brazil, Amerika, Argentina, Timor Leste, Australia), sampai hari ini latihan diikuti tidak kurang dari 30.000 anggota aktif (dulu di atas 100.000, terbesar di Indonesia Tengah, Timur dan Timor-Timur). Bisa dibayangkan bagaimana besarnya ketika dimobilisasi untuk kegiatan positif, apalagi didukung total oleh hirarki dan umat dengan kekuatan penuh. Dengan sistem yang makin baik dan canggih nantinya potensi gereja yang ada ini dapat dijadikan ujung tombak kegiatan pewartaan yang positif dan ampuh dalam rangka meningkatkan kualitas SDM umat katolik untuk ikut mempercepat majunya pembangunan bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Terpikirkah oleh kita bahwa THS-THM diangkat dari akar budaya Indonesia. Walau diangkat dari seni-budaya (seni tari/beladiri/pencak silat) Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta, tempat para Dewan Pendiri awal berasal – tetapi kita dapat terus menyempurnakan materinya. Juga memberi ruang bebas berkreasi secara universal dalam arti dapat menyesuaikan diri dan bercampur-melebur dengan seni-budaya lokal/setempat – seperti garam melebur dalam sayuran. Agar laku dijual (diminati) peserta di mancanegara ketika dipromosikan bersaing bebas dengan beladiri/seni gerak lain (yang tanpa atau berisi spiritual lain) misal : yudo, karate, pencak silat, taekwondo, aikido, jujitsu, kempo, kungfu/wushu, taichichuan, arnis/kali, thaiboxing, kapoira, jetkundo, tinju, sumo, beladiri spiritual non katolik, senam, balet. Misi dan kegiatannya dapat dijadikan sebagai duta pertukaran antar budaya yang makin disadari sangat penting dalam rangka menciptakan dialog antar budaya, agama dan bangsa untuk menciptakan saling pengertian bagi perdmaian dunia yang lebih baik. Diharapkan kehadirannya nanti memberi motivasi, inspirasi serta pencerahan bagi pesertanya di seluruh dunia – yang mendorong pengembangan/penyempurnaan/penemuan iptek lama atau baru guna mempelopori peningkatan dan pembaharuan kualitas makhluk hidup yang bermanfaat. Khususnya manusia.

Sekaranglah saat yang tepat. Umat dan hirarki perlu turun tangan ikut berpartisipasi memikul beban pelayanan dan pewartaan dengan cara ikut me”massal”kan, dan terus menyempurnakan kualitas sistem/menu (materi dan kurikulum) latihan/kegiatan THS-THM, agar porsi yang tepat dapat diberikan sesuai keperluan kelompok atau pribadi peserta, agar hasilnya maksimal sesuai kemajuan jaman. Sistem, menu (materi dan kurikulum) itu juga perlu di design agar selain bisa dikonsumsi peserta lokal/Indonesia juga bangsa lain supaya mendunia. Jadikan ini sebagai salah satu model sarana pembinaan kaum muda, generasi penerus gereja masa depan. Sebagai contoh kita bisa melihat keberhasilan yang membawa manfaat positif dan sudah lebih dahulu dilakukan saudara kita Tapak Suci (Muhammadiyah), Pagar Nusa (Nahdatul Ulama), Al Azhar, Kungfu di Cina (Budha), dan lainnya. Mereka terapkan latihan beladiri pada jaringan sekolah dan pusat pelayanan umat yang mereka miliki sebagai basis massa/umat. Menjadi tempat penggodogan kader dakwah intern untuk meningkatkan kualitas SDM-nya.
Pendanaannya ditanggung bersama dan diatur begitu rupa. Intelektual dan rohaniawannya ikut aktif mengajar di pusat pendidikannya. Jadilah ia organisasi umat-awam yang kuat, mandiri, dan mengakar dalam sampai ke bawah. Maka bagi kita buatlah karya ini menjadi besar, berguna untuk banyak orang. Kita optimis dapat melakukannya, karena sebagai produk mutakhir dapat dibuat sama atau lebih baik dari yang sudah ada, malah sering dengan waktu lebih singkat. Kita faham resepnya adalah berdoa mohon bimbingan Tuhan agar sesuai dengan kehendakNya, kerjasama dalam tim yang kompak, penuh cinta dan kesungguhan.

Falun Gong yang dilarang di Cina adalah latihan olah raga semacam taichi yang diberi muatan spiritual Budha/Konfusius. Diciptakan dan di design oleh hanya beberapa personil. Pesertanya dengan cepat merambah dunia karena mereka merasakan manfaat ajaran persahabatan dan peningkatan kualitas kesehatan. Hanya sayang tidak dikontrol oleh organisasi agamanya sehingga mudah dibelokkan/dipolitisir untuk kepentingan lain menjadi tidak netral lagi. Latihan gerak tubuhnya cenderung perlahan/kontemplatif seperti salah satu materi THS-THM yang di design untuk kelompok C (dewasa dan manula) yaitu : Sekar Kasih dan Meditasi Aisurto. Kita bangga bahwa gereja katolik penuh berkat. Gereja memiliki struktur organisasi dan kekuasaan sampai tingkat dunia (kepausan), melewati batas teritorial negara dan bangsa. Kita berani ramalkan apa yang terjadi pada Falun Gong dan beberapa organisasi beladiri lain yang palsu (yang merekrut massa-anggota lalu dicekoki ideologi tertentu untuk tujuan jahat) tidak terjadi pada THS-THM. Karena nanti sistem, menu (materi dan kurikulum) latihannya adalah karya bersama yang terus disempurnakan. Dan Gereja/hirarki yang di dalamnya para suci berkumpul berdoa, wajib ikut meramu sistem/menu itu dan ikut memimpin pengawasannya. Kita percaya, kekuatan doa bersama (doa dan membahas kitab suci) dalam nama Bapa-Putra-Roh Kudus di awal dan penutup latihan akan memurnikan, meminimalkan, dan meniadakan kekuatan/energi negatif (jahat). “Apabila ada dua orang atau lebih berkumpul dan berdoa dalam namaKu……Aku akan hadir di tengahnya……………. (Matius………..)

Kalau boleh digambarkan kegiatan latihan THS-THM adalah tambahan sarana dan variasi kegiatan berdoa. Pembacaan kitab suci dan doa yang umum dibawakan dalam misa mingguan di dalam gedung/gereja sekarang diperluas keluar gereja “berinkulturasi” dengan seni-budaya lokal di tenpat latihan. Pembacaan kitab suci/injil dan renungan secara singkat adalah bagian tak terpisahkan dari 4 (elemen) dasar latihan THS-THM yaitu : pendalaman iman, beladiri, rekreasi, dan organisasi yang pemberian menu/porsinya di design begitu rupa sesuai situasi dan kondisi peserta.

Bukankah sarana semacam ini termasuk yang dicari, dan diperjuangkan gereja. Yaitu mengusahakan berbagai model sarana untuk menyalurkan karunia Allah yang pada intinya adalah pewartaan kabar baik, yang di dalamnya berisi pendidikan untuk melaksanakan cinta-kasih terhadap sesama sebagai saudara/sahabat yang tulus, agar kwalitas hidup fisik-mental-spiritual manusia (SDM) meningkat – sehingga manusia dapat mencari dan menerima utuh berkatNya masing-masing dengan penuh ketulusan dan syukur.

Menyadari manfaat positifnya yang luar biasa ini, mari kita berikrar untuk secara sadar, cermat-terencana dan alamiah terus membangun persahabatan yang tulus dalam organisasi THS-THM yang mandiri. Kapan…? Kita teruskan mulai hari ini……………

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI FISIKA XII IPA OPTIKA FOKUS